Rabu, 24 Maret 2021

Setelah Badai Pergi

Gadis cilik berkuncir dua itu tertawa melihat banyak kupu-kupu berterbangan di sekelilingnya. Sesekali, dia mencoba menangkap salah satu kupu-kupu itu namun selalu gagal.  Tak jauh dari situ, seorang perempuan muda duduk memperhatikan.  Dia balas tersenyum ketika si gadis kecil memanggilnya.

"Ibu, kupu-kupunya bagus ya," ujar si gadis kecil menghampiri perempuan muda itu.

"Iya Nak.. Hmmm… Kita pulang sekarang yuk, sudah sore..." ujarnya.

Ibu dan anak itu berjalan keluar dari taman kecil di dekat rumah mereka. Aku yang dari tadi memperhatikan, langsung turun dari motor dan memanggil.

“Atik! Tunggu,” aku berlari kecil ke arah mereka. Perempuan muda itu menoleh.

“Oh, hai. Mau kemana Mas?” tanya Atik.

“Mau ke rumah kamu Tik. Oiya, aku punya sesuatu buat kamu nih anak manis,” kataku sambil jongkok dan memberikan bungkusan yang aku bawa kepada si gadis kecil berkuncir dua.

“Waaah, apa ini Om?” ujarnya dengan mata berbinar.

“Nanti di buka di rumah yaa,” ujarku yang dibalas anggukan oleh bocah itu.

Hampir 4 tahun usia si gadis kecil. Kesha namanya. Selama itu pula Atik, ibunya mencoba bertahan membesarkan dan menyayanginya sepenuh hati, seorang diri.

Ya, Kesha lahir tanpa ayah. Bahkan Atik tidak tahu siapa ayahnya. Kesha lahir karena Atik diperkosa. Beramai-ramai, dipinggir hutan di sebuah kampung empat tahun yang lalu. Setelah peristiwa itu, selama beberapa bulan, Atik tak mampu mengeluarkan suara. Seolah-olah suaranya habis dia gunakan ketika tangan-tangan buas itu mengoyak tubuhnya. Saat itu Atik berteriak, tapi tak ada yang mendengar. Atik memohon, tapi tak ada yang menggubris. Atik merintih.. Tapi mereka malah semakin buas.

Atik marah. Atik kesal. Atik murka. Namum semua itu tersimpan rapi dalam dirinya. Bersama remuk badanya. Ia rmeredam perasaannya. Satu hal yang pasti, perutnya semakin membesar, detak jantung bayi dalam rahimnya semakin jelas terdengar. Dan Atik memutuskan melahirkan bayinya.

"Bagaimana kabarmu Atik?" tanyaku suatu saat ketika baru pertama kali bertemu Atik. Saat itu aku bertugas membuat tulisan tentang perkosaan yang dialaminya untuk koran tempatku bekerja. Saat itulah aku pertama kali bertemu Atik dan Kesha yang masih berada dalam kandungan.

Atik tak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis.  

"Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau jawab," aku tersenyum.

Atik diam saja. Kupandangi wajah sendu dihadapanku itu. Matanya jernih berwarna hitam. Hidungnya bangir, mulutnya kecil dengan bibirnya yang tipis sempurna. Atik memang cantik sekali. Tiba-tiba Atik bangkit dan masuk ke kamar. Sampai akhirnya aku pulang pun Atik tak juga keluar dari kamarnya. Ketika Atik masuk kamar, Ratmi, ibunya menemaniku. Dia menghidangkan secangkir teh hangat dan setoples kue kering.

"Diminum dek," ujarnya pendek. Aku mengangguk dan mengambil cangkir teh hangat. Kubasahi kerongkonganku yang sedari tadi kering.

"Atik anak hebat. Dia tegar sekali," ibu Ratmi mulai berkata.

“Dari kecil dia tak pernah menyusahkan. Selalu mandiri. Cita-citanya ingin jadi perawat, makannya saya sekolahkan jauh di kota… “ ujarnya.   

Lalu dia menceritakan tragedi itu kepadaku. Aku mohon izin merekam pembicaraan melalui alat perekam di telpon genggamku. Dia mengiyakan.

Atik kala itu berusia 18 tahun. Saat itu Atik sekolah di Akademi Perawat yang berada di luar kampungnya yang masih pelosok. Atik harus menempuh waktu 90 menit menggunakan angkot setiap harinya untuk sampai ke kampusnya.

“Kalau tahu bakal kejadian seperti ini, ibu pasti ga akan sekolahkan Atik jauh-jauh” Bu Ratmi tertunduk sedih.  

Dari keterangan Bu Ratmi dan warga yang aku peroleh, pada hari kejadian Atik pulang kemalaman karena harus mengerjakan tugas di rumah salah seorang temannya. Selepas Isya, dia baru selesai mengerjakan tugas dan pulang ke rumah menggunakan angkutan umum.

Sampai di gapura depan kampungnya, Atik turun. Dia harus menempuh 15 menit perjalanan kaki untuk sampai di rumahnya. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.  Pada saat melewati pos ronda Atik melihat beberapa orang pemuda yang tengah menenggak minuman keras disana. Dan salah seorangnya adalah anak juragan kebun tebu yang memiliki beberapa hektar tanah di kampung Atik. Walaupun sering berbuat onar, warga tidak berani menegur mereka karena takut dengan juragan tebu itu. Warga desa memang sebagian besar bekerja di perkebunan tebu miliknya. Termasuk Ayah Atik ketika masih hidup.

Atik jalan dengan tergesa melewati pos ronda. Tiba-tiba dia mendengar seseorang memanggil namanya. Atik tak menggubris dan berjalan setengah berlari. Tapi gerombolan pemuda mabuk itu malah berlari mengejarnya. Atik terkepung. Dia mencoba menghindar tapi salah seorang pemuda menangkap Atik dari belakang. Atik terus meronta, tapi dia kalah tenaga. Gerombolan itu lalu menyumpal mulut Atik dengan saputangan dan membopongnya ke tempat sepi di pinggir kampung. Tempat yang menjadi saksi bisu kebrutalan pemuda-pemuda bejat itu.

Hari-hari setelah peristiwa itu adalah mimpi buruk untuk Atik dan Ratmi. Atik terguncang jiwanya. Setiap hari dia hanya menangis pilu. Atik tak berbicara. Hanya menangis menyayat hati. Belum lagi tekanan dari juragan tebu agar Ratmi dan Atik bungkam. Juragan tebu itu pernah membawakan Ratmi segepok uang. Tapi Ratmi menolak mentah-mentah. Dia ingin keadilan bagi putrinya. Ratmi memang pernah beberapa kali didatangi polisi. Itupun terjadi setelah aku menurunkan berita tentang Atik di koran tempatku bekerja. Beberapa pemuda ditangkap, tapi anak si juragan tebu tetap bebas berkeliaran.  

Atik dan Ibu Ratmi akhirnya pindah dari desa itu. Atik mendapatkan konseling dan pengobatan untuk traumanya.  Bu Ratmi perlahan menata hidup, membuka warung kelontong di rumah sederhana mereka. Kesha menjadi anak gadis yang lincah dan lucu. Dan setelah empat tahun berlalu, disinilah mereka, dihadapanku saat ini.

“Om, kok bengong? Terimakasih bonekanya ya. Kesha suka sekali!” Tiba-tiba Kesha membuyarkan lamunanku. “Kesha mau kasih lihat dulu bonekanya sama nenek ya Om,” ujar bocah itu lagi sambil berlari menuju warung kecil di samping rumah. Meninggalkan aku dan Atik berdua di teras.

Kupandangi Atik yang sedang sibuk menyiram tanaman di teras rumah. Aku menghela nafas panjang menguatkan hatiku untuk berterus terang kepadanya. Ya, sejak lama aku memang menyukai Atik. Sejak pertama bertemu dengannya empat tahun lalu, dan pertemuan-pertemuan selanjutnya, aku merasa hatiku tak mampu menolak semua perasaan itu. Tentu saja tak mudah mendekati Atik. Trauma yang dirasakan membuatnya takut bila berada di dekat laki-laki. Termasuk aku. Masih sering kulihat Atik gemetaran hebat ketika berada di tengah keramaian. Atau sering juga Atik tiba-tiba merasa cemas dan panik tanpa sebab yang jelas. Kalau sudah begitu, dia bisa berjam-jam mengurung diri dalam kamar. 

Aku tahu perjuangannya sungguh berat. Pergulatan dalam dirinya melawan semua luka masa lalu. Apalagi ada Kesha yang mau tidak mau menjadi pengingat luka itu. Namun ketegaran hatinyalah yang membuat Atik bertahan. Membuatnya bak karang yang senantiasa diterpa gelombang. Tapi aku ingin berdiri di sampingnya. Menguatkanya.. 

“Atik, aku ingin bicara,” aku mulai membuka percakapan.

“Iya, bicara saja,” ujarnya sambil duduk di sampingku.

“Kamu mau menikah denganku?” ujarku. Atik sedikit kaget. Mencoba menghindar tatapan mataku.

“Memang ngga akan mudah menjalani ini. Aku mengerti posisimu. Tapi Kamu juga berhak bahagia. Aku ingin mencoba menjadi orang yang membuatmu bahagia… Mau ya?” aku mencoba meyakinkan Atik.

Atik mulai terisak. Di balik tangisannya kulihat Atik mengangguk dan tersenyum tipis.

“Terimakasih masih mau mencoba semuanya denganku,” ujarnya singkat. Aku tersenyum lalu kugenggam tangannya dan berjanji untuk selalu membahagiakannya dan Kesha selama-lamanya. 

 

Jakarta, 10 Desember 2020


Setelah Badai Pergi

Gadis cilik berkuncir dua itu tertawa melihat banyak kupu-kupu berterbangan di sekelilingnya. Sesekali, dia mencoba menangkap salah satu kup...