Gadis cilik berkuncir
dua itu tertawa melihat banyak kupu-kupu berterbangan di sekelilingnya.
Sesekali, dia mencoba menangkap salah satu kupu-kupu itu namun selalu gagal. Tak jauh dari situ, seorang perempuan muda
duduk memperhatikan. Dia balas tersenyum
ketika si gadis kecil memanggilnya.
"Ibu, kupu-kupunya
bagus ya," ujar si gadis kecil menghampiri perempuan muda itu.
"Iya Nak.. Hmmm… Kita
pulang sekarang yuk, sudah sore..." ujarnya.
Ibu dan anak itu berjalan
keluar dari taman kecil di dekat rumah mereka. Aku yang dari tadi
memperhatikan, langsung turun dari motor dan memanggil.
“Atik! Tunggu,” aku
berlari kecil ke arah mereka. Perempuan muda itu menoleh.
“Oh, hai. Mau kemana
Mas?” tanya Atik.
“Mau ke rumah kamu Tik.
Oiya, aku punya sesuatu buat kamu nih anak manis,” kataku sambil jongkok dan memberikan
bungkusan yang aku bawa kepada si gadis kecil berkuncir dua.
“Waaah, apa ini Om?”
ujarnya dengan mata berbinar.
“Nanti di buka di rumah
yaa,” ujarku yang dibalas anggukan oleh bocah itu.
Hampir 4 tahun usia si
gadis kecil. Kesha namanya. Selama itu pula Atik, ibunya mencoba bertahan
membesarkan dan menyayanginya sepenuh hati, seorang diri.
Ya, Kesha lahir tanpa
ayah. Bahkan Atik tidak tahu siapa ayahnya. Kesha lahir karena Atik diperkosa.
Beramai-ramai, dipinggir hutan di sebuah kampung empat tahun yang lalu. Setelah
peristiwa itu, selama beberapa bulan, Atik tak mampu mengeluarkan suara.
Seolah-olah suaranya habis dia gunakan ketika tangan-tangan buas itu mengoyak
tubuhnya. Saat itu Atik berteriak, tapi tak ada yang mendengar. Atik memohon,
tapi tak ada yang menggubris. Atik merintih.. Tapi mereka malah semakin buas.
Atik marah. Atik kesal.
Atik murka. Namum semua itu tersimpan rapi dalam dirinya. Bersama remuk
badanya. Ia rmeredam perasaannya. Satu hal yang pasti, perutnya semakin
membesar, detak jantung bayi dalam rahimnya semakin jelas terdengar. Dan Atik
memutuskan melahirkan bayinya.
"Bagaimana kabarmu
Atik?" tanyaku suatu saat ketika baru pertama kali bertemu Atik. Saat itu
aku bertugas membuat tulisan tentang perkosaan yang dialaminya untuk koran
tempatku bekerja. Saat itulah aku pertama kali bertemu Atik dan Kesha yang
masih berada dalam kandungan.
Atik tak menjawab. Dia
hanya tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa
kalau kamu nggak mau jawab," aku tersenyum.
Atik diam saja.
Kupandangi wajah sendu dihadapanku itu. Matanya jernih berwarna hitam.
Hidungnya bangir, mulutnya kecil dengan bibirnya yang tipis sempurna. Atik
memang cantik sekali. Tiba-tiba Atik bangkit dan masuk ke kamar. Sampai
akhirnya aku pulang pun Atik tak juga keluar dari kamarnya. Ketika Atik masuk
kamar, Ratmi, ibunya menemaniku. Dia menghidangkan secangkir teh hangat dan
setoples kue kering.
"Diminum
dek," ujarnya pendek. Aku mengangguk dan mengambil cangkir teh hangat.
Kubasahi kerongkonganku yang sedari tadi kering.
"Atik anak hebat.
Dia tegar sekali," ibu Ratmi mulai berkata.
“Dari kecil dia tak
pernah menyusahkan. Selalu mandiri. Cita-citanya ingin jadi perawat, makannya saya
sekolahkan jauh di kota… “ ujarnya.
Lalu dia menceritakan
tragedi itu kepadaku. Aku mohon izin merekam pembicaraan melalui alat perekam
di telpon genggamku. Dia mengiyakan.
Atik kala itu berusia
18 tahun. Saat itu Atik sekolah di Akademi Perawat yang berada di luar
kampungnya yang masih pelosok. Atik harus menempuh waktu 90 menit menggunakan
angkot setiap harinya untuk sampai ke kampusnya.
“Kalau tahu bakal
kejadian seperti ini, ibu pasti ga akan sekolahkan Atik jauh-jauh” Bu Ratmi
tertunduk sedih.
Dari keterangan Bu
Ratmi dan warga yang aku peroleh, pada hari kejadian Atik pulang kemalaman
karena harus mengerjakan tugas di rumah salah seorang temannya. Selepas Isya,
dia baru selesai mengerjakan tugas dan pulang ke rumah menggunakan angkutan
umum.
Sampai di gapura depan
kampungnya, Atik turun. Dia harus menempuh 15 menit perjalanan kaki untuk
sampai di rumahnya. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Pada saat melewati pos ronda Atik melihat beberapa
orang pemuda yang tengah menenggak minuman keras disana. Dan salah seorangnya
adalah anak juragan kebun tebu yang memiliki beberapa hektar tanah di kampung
Atik. Walaupun sering berbuat onar, warga tidak berani menegur mereka karena
takut dengan juragan tebu itu. Warga desa memang sebagian besar bekerja di
perkebunan tebu miliknya. Termasuk Ayah Atik ketika masih hidup.
Atik jalan dengan
tergesa melewati pos ronda. Tiba-tiba dia mendengar seseorang memanggil
namanya. Atik tak menggubris dan berjalan setengah berlari. Tapi gerombolan
pemuda mabuk itu malah berlari mengejarnya. Atik terkepung. Dia mencoba
menghindar tapi salah seorang pemuda menangkap Atik dari belakang. Atik terus
meronta, tapi dia kalah tenaga. Gerombolan itu lalu menyumpal mulut Atik dengan
saputangan dan membopongnya ke tempat sepi di pinggir kampung. Tempat yang
menjadi saksi bisu kebrutalan pemuda-pemuda bejat itu.
Hari-hari setelah
peristiwa itu adalah mimpi buruk untuk Atik dan Ratmi. Atik terguncang jiwanya.
Setiap hari dia hanya menangis pilu. Atik tak berbicara. Hanya menangis
menyayat hati. Belum lagi tekanan dari juragan tebu agar Ratmi dan Atik
bungkam. Juragan tebu itu pernah membawakan Ratmi segepok uang. Tapi Ratmi
menolak mentah-mentah. Dia ingin keadilan bagi putrinya. Ratmi memang pernah
beberapa kali didatangi polisi. Itupun terjadi setelah aku menurunkan berita
tentang Atik di koran tempatku bekerja. Beberapa pemuda ditangkap, tapi anak si
juragan tebu tetap bebas berkeliaran.
Atik dan Ibu Ratmi
akhirnya pindah dari desa itu. Atik mendapatkan konseling dan pengobatan untuk
traumanya. Bu Ratmi perlahan menata
hidup, membuka warung kelontong di rumah sederhana mereka. Kesha menjadi anak
gadis yang lincah dan lucu. Dan setelah empat tahun berlalu, disinilah mereka,
dihadapanku saat ini.
“Om, kok bengong?
Terimakasih bonekanya ya. Kesha suka sekali!” Tiba-tiba Kesha membuyarkan
lamunanku. “Kesha mau kasih lihat dulu bonekanya sama nenek ya Om,” ujar bocah
itu lagi sambil berlari menuju warung kecil di samping rumah. Meninggalkan aku
dan Atik berdua di teras.
Kupandangi Atik yang
sedang sibuk menyiram tanaman di teras rumah. Aku menghela nafas panjang
menguatkan hatiku untuk berterus terang kepadanya. Ya, sejak lama aku memang menyukai
Atik. Sejak pertama bertemu dengannya empat tahun lalu, dan pertemuan-pertemuan
selanjutnya, aku merasa hatiku tak mampu menolak semua perasaan itu. Tentu saja
tak mudah mendekati Atik. Trauma yang dirasakan membuatnya takut bila berada di
dekat laki-laki. Termasuk aku. Masih sering kulihat Atik gemetaran hebat ketika
berada di tengah keramaian. Atau sering juga Atik tiba-tiba merasa cemas dan
panik tanpa sebab yang jelas. Kalau sudah begitu, dia bisa berjam-jam mengurung
diri dalam kamar.
Aku tahu perjuangannya
sungguh berat. Pergulatan dalam dirinya melawan semua luka masa lalu. Apalagi
ada Kesha yang mau tidak mau menjadi pengingat luka itu. Namun ketegaran
hatinyalah yang membuat Atik bertahan. Membuatnya bak karang yang senantiasa
diterpa gelombang. Tapi aku ingin berdiri di sampingnya. Menguatkanya..
“Atik, aku ingin
bicara,” aku mulai membuka percakapan.
“Iya, bicara saja,”
ujarnya sambil duduk di sampingku.
“Kamu mau menikah
denganku?” ujarku. Atik sedikit kaget. Mencoba menghindar tatapan mataku.
“Memang ngga akan mudah
menjalani ini. Aku mengerti posisimu. Tapi Kamu juga berhak bahagia. Aku ingin
mencoba menjadi orang yang membuatmu bahagia… Mau ya?” aku mencoba meyakinkan
Atik.
Atik mulai terisak. Di
balik tangisannya kulihat Atik mengangguk dan tersenyum tipis.
“Terimakasih masih mau
mencoba semuanya denganku,” ujarnya singkat. Aku tersenyum lalu kugenggam
tangannya dan berjanji untuk selalu membahagiakannya dan Kesha
selama-lamanya.
Jakarta, 10 Desember
2020